Diktir Indri Cihyini

Covid-19

Ada seorang dokter, tapi dia perokok. Sekilas memang aneh. Orang yang bergelut dengan peristiwa-peristiwa saintifik, kok, bisa-bisanya menghisap asap rokok?!

Merokok—secara saintifik merusak paru-paru—yang dilakukan oleh seorang tenaga medis adalah kekeliruan. Sementara kesimpulan saintifik dari rokok masih tetap menjadi nilai kebenaran.

Jadi hal ini tidak relevan jika dijadikan dalil.

Jika ingin satu contoh lagi, saya punya usulan terkini, yaitu: ahli agama yang kriminal.

Membunuh/memerkosa adalah perbuatan yang dilarang agama, kekeliruan. Tapi jika ada seorang ulama yang pada akhirnya membunuh atau dipenjara polisi lantaran memerkosa santrinya, tidak lantas mengubah nilai dari keharaman membunuh/memerkosa.

Logika ini juga bisa dipakai, sekadar contoh, pada nilai-nilai memakai masker di tengah pandemi.

Memakai masker betul-betul mampu mencegah penularan virus, dan sudah terbukti (evidence) secara saintifik mengurangi transmisinya. Tapi jika ada orang yang “kampanye pakai masker” kedapatan tidak memakai masker, itu jadi persoalan lain.

Maka dari itu, ketika Aa Gym—yang selalu berceramah Islam dengan sangat baik—kedapatan menzalimi keluarga & istrinya, tidak lantas meruntuhkan nilai-nilai agama yang ia ceramahkan. Aa Gym adalah satu hal, sementara nilai agama yang ia ceramahkan adalah hal lain.

Sudah dong, ya, sama logika biner ini?!

(Untuk publikasi masker terbukti menekan penyebaran, sila baca di sini)

Kembali ke dokter yang perokok tadi, lantas apa yang bisa dijadilan dalil?! Yaitu ketika ia berbicara sesuatu yang relevan dengan kredensinya!

Itu saja.

Konsekuensi logisnya, ketika seorang dokter hewan, katakanlah nama beliau Indri Cihyini, berbicara tentang Korona: yang bisa dipercaya darinya hanyalah hal-hal yang sesuai kredensinya semata.

Struktur biologis, mekanisme virus memengaruhi organ tubuh, teknis meracuni atau membunuh, dan setamsilnya ketika keluar dari dokter tadi maka logis jika dipercaya.

Kredibel!

Hanya saja ada beberapa hal yang keterlaluan dari pernyataan Pak Indri, salah satunya ketika ditanya “apakah harus memakai masker jika keluar rumah?!” dia menjawab:

“Pakai, ya, monggo. Tidak, ya, monggo. Seperti sunat, lah. Kalau mau sunat, ya, monggo. Kalau tidak, ya, monggo.”

Dalam satu video ia mengaku tidak mau meladeni yang kontra. Dilihat sambil ngowoh saja mereka, kata dia. Tapi di dalam videonya pula, ia mengejek petugas penertib masker, mengatai mereka dengan penyebutan yang tidak senonoh. Bahkan ketika saya tanya alasan saintifik/bukti pernyataannya, malah disodori foto wajah dia, menonjolkan hidung, sambil menyelipkan sebatang rokok.

“Rahasia!” jawabnya.

Maunya apa orang ini?! Tidak mau berdialog, tapi dia sendiri yang memprovokasi orang?!

Saya bertanya kembali, tapi berujung pada blokir. Upaya untuk berdialog akhirnya benar-benar dia tutup sendiri.

Saya keberatan pada: selain virolog, ia meloncat-loncat & merangkap sebagai epidemiolog. Ketika bukti saintifik mengarahkan pada pemakaian masker, namun dia berkata lain. Sederhananya, satu pernyataannya tadi bertentangan dengan kesimpulan saintifik dari epidemiologi & public health.

Kecuali dia mampu mengeluarkan bantahan saintifik lain, maka kebenaran saintifik dari epidemiologi & public health yang ia bantah bisa saja direvisi (dan saya pun bakal menerimanya!).

Saya pun penasaran, dong?!

Tapi sampai sekarang belum ada yang ia keluarkan. Karena sialnya, ternyata dia merangkap sekaligus jadi pengamat konspirasi.

Maunya apa orang ini?

Ditagih jawaban ilmiah, menutup diri. Ditunggu publikasi jurnal ilmiah untuk membantah kesimpulan epidemiologi & publich health, dia sendiri yang menuduh ruang publikasi jurnal sudah tidak murni, diarahkan, dan “sudah dibeli”.

Ibarat orang di balik tribun yang koar-koar dirinya kuat & mampu mengalahkan McGregor, tapi ketika ditagih untuk naik ke atas ring malah memaki-maki pertandingannya sudah curang.

Istilah apalagi yang layak untuk menyebut sikap ini selain kepengecutan?!

Islam & Kristen memiliki konsep Tuhan yang berbeda, tapi ada jembatan bersama untuk berdialog. Nama jembatan itu ialah: logika (manthiq).

Sama seperti saya yang bukan virolog, bukan pula epidemiolog. Saya hanya pemuda yang berkecimpung di bidang humaniora. Tapi saya meyakini ada jembatan bersama antara saya & Pak Indri untuk berdialog. Nama jembatan itu ialah: metodologi.

Saya mengapresiasi ajakan Pak Indri untuk tidak panik. Saya juga yakin manusia bakal menang melawan virus satu ini. Tapi belum ada wabah yang berhasil ditekan dengan “santai saja, lah!”, seperti kampanye yang dia terus bawa.

Benar bahwa 98% yang terinveksi COVID-19 akan sembuh dengan tubuh manusia itu sendiri, tapi ada 2% yang meninggal dunia (update 10 Juni: di sini). Jika penduduk Indonesia sebanyak 200 juta orang, maka ratio yang meninggal bisa tembus 4 juta jiwa. 

Benar pula bahwa tubuh mampu memproduksi tentara (antibodi) yang melawan, tapi tubuh pun membutuhkan waktu untuk mempersiapkan itu (Pak Indri sendiri bilang tubuh memerlukan 4-5 hari untuk mempersiapkan alutsistanya).

Tapi bayangkan ketika virus itu belum sepenuhnya diberantas oleh tubuh, lantas carrier berkeliaran dan bertemu banyak orang, tentu virusnya bisa bertransmisi dari satu tubuh ke tubuh lain sebelum mati digenjet antibodi manusianya sendiri.

Tepat di sinilah muncul kesimpulan memakai masker, atau yang sporadis: diam di rumah dan lockdown. Karena nyawa orang tidak bisa dibuat taruhan, tidak boleh bermain dadu dalam peristiwa seperti ini. Lantaran tidak semua manusia memiliki tubuh yang kuat (0.7% kritis karena COVID-19, cek data sebelumnya).

Nah, itulah kenapa sebelum obat COVID-19 ditemukan (kalau benar-benar ada), maka seluruh kebijakan dan orientasi penanganan COVID-19 sampai sekarang masih bersifat pencegahan.

Sekali lagi: pencegahan!

Apa yang dicegah? Datangnya orang-orang ringkih yang tergeletak kritis atau meninggal dari yang tubuhnya tidak mampu melawan. Karena, seperti saya sebut di atas, nyawa manusia tidak bisa jadi taruhan bermain dadu.

Itulah yang saya gugat sejak kemarin-kemarin dari Pak Indri. Karena jika jawabannya lagi-lagi kembali ke…

“Bagi saya, sih, simpel. COVID-19 itu tidak begitu mematikan. Dari 100 orang yang terinveksi, 98 orang sembuh, kok. Media saja yang mengglorifikasi & membesar-besarkan ketakutan.”

… saya harus jujur kalau pernyataan ini sangat aneh. Seperti rangkuman seperti ini:

“Monggo, kita keluar rumah, gak pakai masker juga tak apa. Insya Allah kesembuhan dari COVID-19 itu besar, kok. Bahwa ada orang yang meninggal karena COVID-19, ya, mohon maaf. Itu di luar topik yang saya obrolkan. Jadi mohon maklum. 🙏🏻”

Ada 12 kekeliruan yang ingin saya tanyakan ke Pak Indri, seluruh tulisan ini hanya mewakili satu saja. Inipun masih prolog, dan saya tulis sambil nunggu cucian. Sejak awal saya beriktikad baik untuk berdiskusi, dan masih menunggu umpan balik dari beliau supaya dialog ini berkembang.

Salam,

Rumail Abbas.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer