Kali Pertama Bertemu Coki Pardede & Tretan Muslim

Fresh tasty homemade burger on wooden table. Big double cheddar cheeseburger with chicken cutlet with french fryes

Coki Pardede & Tretan Muslim, sewaktu dua komedian ini tersandung kasus penistaan agama (bikin acara masak-masak dengan menu daging babi dan kurma), saya kebetulan berada di Jakarta (tepatnya di Kalibata, mabesnya islami.co).

Saya menghubungi Muslim sedang di mana, siapa tahu bisa ngopi darat barang segelas dua setelahnya.

“Ketemu di Mekdi, ya, Bang. Nanti Coki juga ikut.” kata Muslim.

Bermodal jaket Banser & mengendarai GoJek, saya menuju lokasi. Jaket ini sebagai simbol dan sikap saya terhadap keduanya, sekaligus “jimat keamanan” kalau tiba-tiba dihadang laskar.

Hhe~

Tiba di lokasi sekitar jam delapan, kami ngobrol hingga lewat malam. Anak-anak muda di sekitar kami kadang menyela untuk meminta foto bersama (tentu saya cuma bisa lihat saja, nDak ikut foto-foto).

Muslim bercerita masa lalunya yang cukup rigid, bahkan pernah punya niatan jihad ke Palestina. Lahir di keluarga Madura yang NU saja sudah seperti Islam, setibanya di Jakarta Muslim memiliki cara pandang yang berbeda.

Beda Muslim, beda pula Coki.

Lahir di keluarga Batak yang cukup serius dalam agama Protestan, dia mulai berbeda setelah sains memberinya pencerahan. Kini, setidaknya menurut pengakuannya, dia memilih jalan kepercayaan dengan dasar bukti dan logika. Sudah hampir mirip ateis yang tidak percaya Tuhan, apalagi hal-hal dogmatis dan supranatural.

Perbincangan kami tidak didominasi kasus yang menimpa mereka, tapi lebih kepada dialektika agama dan posisinya menjaga ketertiban umat manusia.

Di balik wajah humoris keduanya, tersimpan mulut yang mampu beretorika dengan baik. Nampak sekali mereka mengerti apa yang mereka bicarakan, seperti “pemikir jalanan” yang cuma kekurangan kredensial dari kampus sebagai intelektual.

Setelah tertimpa kasus penistaan agama, kini keduanya “dibimbing” Husein Ja’far Al-Hadar. Seorang habib muda yang tidak berdakwah di majelis salawat seperti habaib lainnya, tapi memilih ekosistem orang-orang blangsak seperti Coki-Muslim, lah.

Ini sedikit kisah bahwa manusia itu tidak seragam. Meski bersatu dalam iman, tidak semua isi kepala mereka tentang Tuhan persis sama.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer