Kanjeng Nabi & Mbah Moen

Sayidina Abbas, paman Kanjeng Nabi pernah ditanya:

“Siapa yang lebih sepuh (أكبر), Anda atau Rasulullah?”

Sayidina Abbas membalas:

“Beliau lebih mulia (أكبر), aku hanya lebih dulu lahir saja.”

Waktu sowan Mbah Moen dan meminta izin merekam, saya mengajukan prolog:

“Nyuwun istifadah nJenengan, sebagai guru bangsa, untuk memberi petuah kami agar tidak terpecah belah.”

Konteks waktu itu ialah “persabungan politik” era putra beliau, Gus Yasin Maimoen maju sebagai kandidat Wagub Jawa Tengah, dan pertikaian di lapis bawah supaya bisa dihindari.

“Lho, yang layak jadi guru bangsa itu Lik Mus (KH. Mustofa Bisri). Aku lho sopooo?” Jawab Mbah Moen.

Waktu Muktamar Jombang yang sempat geger itu, Gus Mus “mengunci diri” dan di luar pintu sedang geger siapa yang layak memimpin Syuriyah NU. Gus Mus menulis manifesto bahwa dirinya tidak layak, sembari menambahi…

“Biarlah Syuriah NU dipimpin yang lebih faqih dan lebih sepuh (أفقههم وأكبرهم) di antara Ahlul Halli wal Aqd.”

Saya haqqul yaqin waktu itu manifesto Gus Mus mengarah pada Mbah Moen, yang tidak lain dan tidak bukan, lebih faqih dan lebih sepuh dari semuanya.

Namun, apa jawab Mbah Moen setelah membaca manifesto itu?

“Nah, ini. Sosok seperti inilah yang layak memimpin Syuriah NU. Beliau lebih mengerti (أفقههم) dan lebih dewasa (أكبرهم).”

Selamat ngopi, Pagi. Jangan lupa khidmahi NU~

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer