Setelah Geger Gus Miftah, Lantas Apa?!

Ilustrasi: WhatsApp

Seperti bisa ditebak, setelah peristiwa Gus Miftah berpidato ke gereja, WAG-WAG mulai aktif lagi membahas “bagaimana hukum seorang muslim berhubungan dengan non-muslim, hingga memasuki masjid, dan batasan toleransi terhadap non-muslim”.

Satu per satu masyayikh pun menulis opininya, lengkap dengan dalil yang menyebutkan halaman turats & qoul mu’tabar ini dan itu.

Tak berhenti di sana, sederet nama-nama pun disebutkan “terlihat akrab” dengan non-muslim (sehingga dari pandangan masyayikh, mereka ini nampak condong kepada orang kafir [mail al-qalbi] daripada saudara muslimnya sendiri).

Setelah saya kumpulkan beberapa opini masyayikh, setidaknya ada lima lembaga/figur yang disinggung:

  1. Ansor (kasus menjaga gereja setiap Natal, jika sudah ada TNI-Polri, kenapa masih mau ikut?!),
  2. FKUB (berikut GUSDURian yang nampak “terlalu akrab” dengan non-muslim daripada saudara muslimnya sendiri),
  3. PBNU Kiai Said (untuk yang ini berkaitan dengan poin di bawah),
  4. Gus Dur, Gus Yahya Staquf, dan Gus Yaqut (tokoh pluralisme, dan beberapa peristiwa menyeret nama setelahnya pada upaya penghapusan label kafir dalam terminologi Indonesiawi), dan
  5. Gus Miftah (kalau ini sudah tahu sendiri, lah).

Saya menghormati pendapat masyayikh, haqqan. Dan saya berterima kasih sebesar-besarnya karena sebaran WAG yang saya terima ternyata mencantumkan dalil-dalil baru yang memperkaya khazanah (paling tidak bagi saya sendiri).

Hanyasaja, jika hamba boleh berkata, cukup disayangkan pendapat tersebut memakai pendekatan literatur. Hampir seluruh tulisannya adalah pendalaman teori-teori yang tercantum dalam kitab-kitab untuk direfleksikan ke kasus faktual. Kalaupun ada data, setelah saya cek ternyata tidak begitu akurat (untuk tidak menyebutnya keliru).

Bagi saya, untuk kasus yang lagi viral di WAG-WAG, pendekatan yang seharusnya dipakai adalah studi kasus. Zalim rasanya jika menghukumi sebuah peristiwa tanpa mengangkat konteks kasus yang berada di sana.

Ansor menjaga gereja, kenapa kiai (PB)NU bisa leluasa menerima undangan ke gereja, kenapa juga intelektual muslim (NU) bisa berpendapat jauh dari kitab kuning (untuk hubungan dengan non-muslim & gereja): itu semua tidak muncul tiba-tiba tanpa ada alasan yang melatarbelakanginya.

Saya pernah terlibat dalam beberapa resolusi yang diinisiasi GUSDURian (Jepara, Kudus, Pati, Semarang), dan merasakan betapa beratnya mengurai benang yang kusut akibat pertikaian beda agama.

Saya sendiri sebagai orang yang pernah terlibat langsung di dalam “ring pertikaian” itu merasa jengkel ketika menerima ulasan para komentator di balik tribun yang isinya serba salah dan serba haram itu.

Tolonglah, situasi begini kadang tidak sama persis seperti kitab kuning.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer