Teror COVID-19 atau Teror Media?!

Online News (ilustrasi)

Saya unggah tangkapan layar penelitian dari rekan-rekan di UIN Jakarta sepanjang 2018-2019 (saya terlibat sedikit di dalamnya sebagai narasumber), yang seharusnya dirilis secara meriah tahun 2020 namun karena pandemi jadi ya gitu deh~

Report: Merit Indonesia (PPIM UIN Jakarta, 2020)

Terinspirasi dari metodologi penelitian ini saya sempat memberi komentar beberapa waktu lalu bahwa dengungan Pak Diktir Indri Cihyini dan Pak Andri, yang mengatakan bahwa “tidak ada wabah Korona, yang ada hanya wabah media”, tidak sepenuhnya bisa dibenarkan.

Pak Diktir menginsinuasi beberapa media (seperti Tempe, Tirti, Ditik, dll) dan melabeli mereka sebagai teroris COVID-19 karena merongrong ketakutan warga dengan kabar-kabar mencekam.

Tapi benarkah demikian?!Untuk mengetahui kebenaran ucapan itu, seharusnya tidak bisa diwakili dengan satu-dua-tiga cupikan layar dari headline-headline berita yang mereka pilih.

Inilah kenapa saya sebut mereka melakukan cherry picking, sebuah kesalahan berpikir dimana mereka memilih-milih bukti supaya ucapan mereka terdukung sembari menutupi (dengan sengaja atau ketidaktahuan semata) bukti lain yang justru menunjukkan kekeliruannya.

Kekeliruannya di mana?!

Kita memerlukan alat ukur untuk menilai benar-tidaknya pernyataan Pak Indri. Di kalangan peneliti, alat ukur tersebut diwakili dengan “sentiment ratio“.

Jika yang disebutkan adalah media, maka harus mempertimbangkan semua narasi seragam (yaitu berita Korona) di semua media itu. Gak boleh satu-satu. Cherry picking nanti jadinya.

Kalaupun mengambil satu media saja (katakanlah Tempe), maka diukur komposisi semua kabar yang seragam (yaitu berita Korona) di Tempe, dalam rentang waktu tertentu (variabel X). Barulah diteliti sentimen warga (variabel Y) ketika membaca semua kabar seragam tersebut.

Apa hasilnya?!

Jika yang dimaksud Pak Indri ialah awal-awal pandemi, benar bahwa sentimen rasio negatif dari warganet terhadap berita COVID-19 tinggi sekali (sekitar 70%). Apapun yang heboh, di waktu-waktu ia muncul memang membikin orang kaget dan panik. Hal ini manusiawi dan lazim. Makanya ketika awal-awal Pandemi, panic buying benar-benar terjadi di tengah warga.

Namun hal itu tidak berlangsung lama. Daya bertahannya tidak sampai tiga bulan saja. Makin ke sini, hingga awal tahun 2020 (tahun pertama Pandemi sudah dilewati), sentimen negatif dari warganet kian menurun (hingga di bawah 20%). Sementara itu, sentimen netral dan sentimen positif yang makin naik (genapan akumulasi: 80%).

Asumsinya: jika ada 100 orang membaca semua berita Korona di semua media, maka yang takut & tercekam tidak lebih dari 20 orang. Sementara yang biasa-biasa saja (netral) dan mungkin untuk pengetahuan atau kedisiplinan hidup (positif) bisa tembus 80 orang.

Silakan Anda cek semua hasil penelitian tentang media & pemberitaan COVID-19 sejak 2019-2021 di sini: https://www.google.com/search…

Sayangnya, tidak ada yang mengabari Pak Indri tentang hal tersebut. Hingga selama dua tahun blio masih berkampanye bahwa teroris Korona hanyalah media. Tidak ada wabah Korona, yang ada hanya wabah media. Korona hanya akal-akalan media. Dan Korona hanya wabah yang dibesar-besarkan media.Bagaimana bisa media disebut teroris jika semua kabar tentang Korona hanya meraup sentimen negatif di bawah 20%?

Dan untuk sebuah pandemi, jika Anda memakai sentiment indicator sebagai alat ukur, sebenarnya media di Indonesia tidak terlalu berlebihan dalam pengabaran Korona.

Di Eropa sentimen meter di media mereka tembus di angka 63%, sangat wajar jika banyak profesor & nakes di sana keberatan sebab media cenderung menakut-nakuti warganya. Dan relevan juga karena regulasi & penegakan aturan dampak pandemi di Eropa cenderung ketat.

Lengkapnya bisa Anda cari di sini: https://www.google.com/search…

Tapi di Indonesia bukanlah Eropa, dan sentimen meter-nya gak sampai rata-rata 16%.

Lha, gimana disebut teroris, sih?!!

Sugeng pagi~

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer