Wali Quthb (Kutub)

backgrounds night sky with stars and moon and clouds. wood. Elements of this image furnished by NASA

Plato pernah ditemui Abdul Karim Al-Jily (sewaktu kasyaf) di sebuah tempat agung yang hanya dihuni oleh orang-orang mulia di sisi Allah, yaitu para wali.

(Redaksi Abdul Karim dalam Al-Insan Al-Kamil:

ورأيت له مكانة لم أرها إلا لآحد من الأولياء)

Ketemu, diajaklah Plato berdialog.

فقلت له : من أنت؟

“Kemudian aku berkenalan dengan Plato: siapa Anda?!” Abdul Karim mengawali.

قال : قطب الزمان

“Aku wali kutub.” jawab Plato.

Plato, sampai ia meninggal, hidup dalam kesendirian (menjomblo!). Nampaknya ia sangat puas dengan kehidupan mengajar & jadi manusia pemikir.

Sebagai manusia yang berpikir, suatu ketika ia menemukan tiga buah apel. Dan ia pun mulai berpikir:

“Jika di dunia ini tidak ada apel, apakah ‘tiga buah’ apel di depanku ini bakal ‘tidak ada’ juga?!” batin Plato.

“Tentu saja ‘tidak ada’. Ketiga-tiganya akan hilang!” jawab Plato sendiri.

“Akan tetapi, jika tiga buah apel ini hilang, apakah ‘bilangan tiga (3)’ juga akan ikut hilang di dunia bersama hilangnya ketiga buah apel ini?!” lanjut Plato.

Dari sinilah Plato melahirkan gagasan tentang “idea”, sifat yang atemporal (tidak terpengaruh dengan ruang dan waktu).

Rangkuman singkatnya begini:

Meskipun apelnya hanya satu, ‘bilangan tiga’ akan tetap ada di dunia. Meskipun Anda berada di gua terpencil di waktu malam nun gelap, yang namanya ‘warna biru dan ‘warna merah’ akan tetap ada di dunia.

Kemampuan manusia untuk menalar tanpa didahului pengalaman (apriori) adalah kepercayaan yang banyak ditinggalkan para filsuf berkat sains modern dimana semua hal sudah bisa ditemukan dengan fakta indrawi.

Mulai dari sini konsep “idea” mengalami konfrontasi argumen. Seperti penjelasan saya di bawah ini…

Karena berpikir matematis bersinggungan dengan segala aspek yang bersifat umum, maka ia kerap kali bertemu dengan perkara metafisika. Dari sinilah logika matematis bakal bersinggungan pula dengan pertanyaan:

Bisakah pemikiran kita mengakses pengetahuan tentang “diri Tuhan” (sehingga Dia bisa dijustifikasi benar-benar ada)?

Atau lebih terkini: mampukah pemikiran kita menjangkau informasi bahwa Isra Mikraj itu benar-benar terjadi faktual saintifik?!

Kekeliruan banyak orang (kecuali yang mengimaninya) ialah memakai logika & matematika untuk mencari “justifikasi tidak-benar” pada perkara empiris. Padahal, keduanya adalah ranah keilmuan yang sama sekali jauh berurusan dengan indrawi (apalagi non-indrawi/metafisik). Sederhananya, tidak mungkin dicari asal-usulnya pada perhitungan-perhitungan yang sifatnya empiris, karena…

Pengetahuan matematis ≠ pengetahuan empiris

Dan salah satu contoh kekeliruan tersebut ialah tweet Mas Saidiman Ahmad (saya unggah di bawah ini). Mas Saidiman seperti berusaha mendudukkan orang-orang pada logika matematika terhadap peristiwa non-indrawi, dan berusaha memecahkan asal-usul…

Bagaimana kita bisa tahu bahwa 1+1 ≠ 2?

Padahal, Isra Mikraj itu bukan ranahnya faktual saintifik, tapi masuk wilayah “faktual historis”.

Epistemologi yang dipakai seharusnya logika sintetis, bukannya matematis.

Gitu~

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer