GUS

Buya Syakur di tengah Habib Quraish Shihab & Kiai Ahsin Sakho (sumber: Gus Rifqiel Asyiq)

Suatu ketika ada seorang Gus yang ikut bahstul masa’il yang dihadiri puluhan santri dari pondok pesantren Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Bahstu berlangsung dengan cukup panas, dikarenakan Gus ini lantang bukan main; tidak hanya musyawirin yang “dihajar”, tapi juga muharrir bahkan musahih sekalian.

“Cara pengambilan hukum ente seperti itu keliru!” kata seorang musahhih, yang juga tokoh besar, ajengan agung di Jawa Barat.

Dari sekian musahih, ajengan inilah yang paling keras, dan paling menolak usulan Gus tadi.

Mauquf!

Dalam bahstu, tentu ada jeda istirahat. Tepat di waktu ishoma (istirahat, sholat, dan makan), Gus ini menghampiri musahih yang galak tadi.

“Yai, nama saya Fulan.” Si Gus memperkenalkan diri.

“Bin Siapa?!” tanya musahih, samar dengan namanya.

“Fulan bin Fulan. Saya ngaji sama Kiai Fulan.”

“Masya Allaaaaaah, Guuuuus. Kok, gak bilang dari tadi?!”

Bahstu digelar kembali, dan sebelum dibuka, musahih mengambil mikrofon dari tangan host:

“Hadirin semua, apa yang diusulkan Gus Fulan tadi, saya setujui sepenuhnya!”

Jauh sebelum itu, ketika ada santri Hadlratus Syaikh Hasyim Asy’ari sowan, ia mengabarkan kegaduhan yang terjadi di Jogjakarta karena kehadiran seorang tokoh modernis yang pulang dari Mekah…

“Siapa namanya?” tanya Mbah Hasyim

“Dahlan, Yai.”

“Apa yang kamu ketahui tentangnya?”

Santri ini pun menjelaskan detail perawakan tokoh ini yang bikin geger lantaran menentang tradisi nahdliyin pada lumrahnya.

“Owalah, itu Kang Darwis. Dia temanku di Mekah waktu talaqqi dengan Syaikh Khatib Al-Minangkabawy.” tandas Mbah Hasyim, “Tidak apa-apa, Kang Darwis itu nDalan, orangnya. Kamu jangan menentangnya, malah justru kamu harus bantu dia!”

Selain kemampuan akademis yang dimiliki (tashawur & tashdiq), validitas seorang alim perlu divalidasi orang alim lain yang mu’tabar (baca: sanad) sebagai pembimbing atau pembanding.

Si Gus & Kiai Dahlan tadi adalah contoh kecil, bahwa kemampuan akademis kadang memerlukan sanad yang mumpuni.

Setelah menyadari bahwa ia adalah putra dari kawan kiai yang ia kenal, sekaligus kawan/murid dari kiai yang mu’tabar, baik musahih & Hadlratus Syaikh tidak segan untuk membenarkan pendapat & sikapnya (taslim).

Saya tidak mengenal Buya Syakur Yasin, hanya tahu melalui ceramahnya di YouTube. Kadang, ada isykal-isykal yang mengganjal pada sosok ini, karena retorika yang disampaikan benar-benar tidak lazim saya dengar.

“Kok bisa mengambil sudut pandang seperti ini, ya?”

“Dia ngambil ibarat dari mana, ya?!”

“Wah, tashawur-nya mBulet juga, ternyata.”

Tapi kegelisahan itu akhirnya terbayar dengan validasi dari tokoh lain, seperti Gus Dur, Habib Quraish, dan Kiai Ahsin Sakho. Ketiga tokoh ini mentahqiq-kan keilmuan dan kesahihan Buya Syakur.

“Buya Syakur ini tawadu minta ampun; ilmunya sudah internasional tapi lebih memilih jadi kiai di kampung,” kata Kiai Ahsin Sakho (aw kama qaal).

Jadi ketika saya mendapati pernyataan beliau keliru di mata saya, saya menyadari akhirnya bahwa sebenarnya bacaan saya tidak secanggih & sebanyak beliau.

👍

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer